ads

Aku dan Waktuku

Daftar isi [Tampil]

Aku menatap bentangan langit penuh kemerlap bintang dari atas gedung apartemenku, lalu menatap ke bawah.

Begitu tinggi. Kira-kira sekitar 200 meter dari atas tanah.

Angin malam terasa mengelus-elus tubuhku dengan penuh kelembutan. Kembali aku berfikir jika aku melompat akan segera selesai semua masalah ini. Paling tidak jika aku tidak jadi mati, aku akan gagar otak dan semua tulangku retak.

“Apa yang akan kau lakukan?”

Langkahku terhenti saat suara perempuan paruh baya masuk ke dalam telingaku.

“Ku tanya sekali lagi, apa yang akan kau lakukan?” dia kembali bertanya dengan nada tidak peduli.

“Bunuh diri,” jawabku

“Oh..” perempuan itu mendekatiku dan duduk disamping aku bediri dengan menggantungkan kakinya dipinggir atap gedung apartemen “Kalau begitu, apa lagi yang kau tunggu? Melompatlah,”

Aku heran, diriku tercekat. “Kenapa kau diam saja? Bukankah kau ingin cepat mati dan mengakhiri segalanya?” tanya dia dengan nada dingin. Suara itu seolah-olah langsung menusuk hatiku.

“Kalau kau takut, berhentilah. Kau tidak dilahirkan untuk mati sia-sia bukan? Lagipula jika kau mengakhiri semuanya sekarang, semua masalahmu hanya akan berpindah ke keluargamu, tidak akan selesai, tidak sama sekali,”

“Harga dirimu bahkan lebih rendah dari binatang, atau jika dibandingkan dengan pembunuh, mereka lebih berharga dari dirimu,”

Aku tertohok dengan kata-katanya. Aku memang sudah tidak tahu lagi harus ngapain. Aku lelah, takut, dan marah dengan dunia ini. Semua harapan perlahan menghilang, dan keputusasaan merajarela dalam diriku.

Kemarin adalah pengumumannya. Aku duduk memandang layar gadget dengan jantung berdebar kencang. Dengan hati yang penuh harap, jemari dingin mulai memasukan deretan angka, tentu saja nomor pesertaku saat mengikuti ujian. Tepat sebulan yang lalu aku mengikuti ujian saringan masuk perguruan tinggi.

Enter, Halaman baru dimuat. Layar telah berganti.

Maaf, Anda tidak dinyatakan lulus...

Napas panjang yang berat, bahu merosot, harapan yang meredup.

Namun hari ini, aku membuat keputusan besar dalam hidupku. Aku rasa hidupku sudah tidak ada gunanya. Aku tertolak masuk salah satu perguruan tinggi impianku.

“Toh lebih baik aku mati daripada kelak menjadi orang yang tidak berguna,”

Perempuan itu menatapku sinis. “Lalu apa bedanya kau mati sekarang dengan kau menjadi tidak berguna di masa depan?”

Tatapanya semakin tajam. “Tidak ada bedanya bukan?”

Benar apa kata perempuan itu. Bahkan jika aku memilih untuk mengakhiri hidupku sekarang, perguruan tinggi yang aku impikan itupun tidak akan memperdulikanku dan tidak akan mempersilahkan aku masuk kedalam dunia pendidikannya.

Aku terdiam beberapa saat.

“Sepertinya aku harus memberitahumu beberapa hal. Yang pertama namaku Rossa, kau bisa memanggilku Ross. Kedua, aku dulu sama sepertimu gagal, putus asa dan ingin sekali rasanya mengakhiri hidup ini,” Celetuknya memecah keheningan setelah kami berdiam cukup lama di tengah malam.

“Namaku Dryan,” sahutku dengan datar.

“Dimana rumahmu, Ros? Dan bagaimana kau tahu jika aku ada di atap apartemen ini?” Tanyaku dengan nada penuh pertanyaan.

“Aku tinggal di seberang apartemen mu, dan aku melihatmu sedang berdiri ditepi apartemen ini,”

Tiba-tiba perempuan paruh baya itu berdiri dan mendekatiku. “Sudahlah nak, perjalanan mu masih panjang, kesuksesan datang bukan hanya datang dari 1 jalan saja. Masih banyak jalan menuju kesuksesan yang mungkin tidak terduga,” Hatiku tertegun mendengar ucapannya.

Memang lucu sekali jika aku akan bunuh diri hanya karena tidak masuk perguruan tinggi impianku.

Sejak saat itu aku memilih untuk terus memperjuangakan cita-citaku dan berjanji tidak akan melakukan hal konyol seperti bunuh diri.

 

Baca Juga

1 Komentar untuk "Aku dan Waktuku"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel