Breaking

Friday, September 6, 2019

6 Poin Krusial Revisi UU KPK Diusulkan saat Era Pimpinan Plt…

loading…

JAKARTA – Pengusul enam poin krusial dalam revisi Undang-undang (UU) No 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK), terungkap. Pengusul tersebut, yakni Pelaksana tugas (Plt) Pimpinan KPK, Taufiqurrahman Ruki, Indriyanto Seno Adji, dan Johan Budi.

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Arteria Dahlan mengungkapkan, semua poin krusial dalam revisi UU itu diusulkan oleh pimpinan KPK saat rapat dengan Komisi III DPR pada 19 November 2015. Arteria mengatakan hal itu berdasarkan risalah rapat Komisi III DPR.

“Iya (Usulan KPK semua-red),” ujarnya dalam diskusi polemik MNC Trijaya FM bertajuk KPK adalah Koentji di D’consulate, Jalan Wahid Hasyim, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/9/2019).

Sementara itu, mantan Ketua KPK Abraham Samad membantah pimpinan KPK jilid III atau ketika dipimpinnya, mengusulkan sejumlah poin krusial dalam revisi UU KPK.

“Saya luruskan bahwa ini usulan tahun 2015 seingat saya. Masa periode kepemimpinan saya 2012-2015. Tapi saya mengalami kriminalisasi, maka saya berhenti di tengah jalan tahun 2015. Kemudian digantikan Plt sampai bulan Desember,” kata Abraham Samad dalam kesempatan sama.

Menurut Samad, Plt Pimpinan KPK menyalahi aturan jika mengusulkan sejumlah poin krusial dalam revisi UU KPK itu. “Karena Plt itu enggak boleh mengeluarkan kebijakan-kebijakan strategis,” katanya.

Adapun enam poin krusial itu adalah, pertama, kedudukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) sebagai lembaga penegak hukum yang berada pada cabang kekuasaan eksekutif atau pemerintahan. Meskipun KPK merupakan bagian dari cabang kekuasaan eksekutif atau pemerintahan, namun dalam menjalankan tugas dan wewenangnya KPK bersifat independen.

“Pegawai KPK merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tunduk kepada peraturan perundang- undangan di bidang aparatur sipil negara,” bunyi laporan Badan Legislasi (Baleg) DPR tentang revisi UU KPK tersebut.

Kedua, KPK dalam menjalankan tugas dan wewenangnya dapat melakukan penyadapan. Namun pelaksanaan penyadapat dapat dilakukan setelah mendapat izin dari Dewan Pengawas KPK.

Ketiga, KPK selaku lembaga penegak hukum merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem peradilan pidana terpadu di Indonesia (integrated criminal justice system). Oleh karena itu, KPK harus bersinergi dengan lembaga penegak hukum lainnya sesuai dengan hukum acara pidana yang berlaku di Indonesia.

Keempat, di dalam upaya meningkatkan kinerja KPK di bidang pencegahan tindak pidana korupsi, setiap instansi, kementerian dan lembaga wajib menyelenggarakan pengelolaan laporan harta kekayaan terhadap penyelenggaraan negara sebelum dan setelah berakhir masa jabatan.

Kelima, KPK dalam menjalankan tugas dan wewenangnya diawasi oleh Dewan Pengawas KPK yang berjumlah 5 (lima) orang. Dewan Pengawas KPK tersebut, dalam menjalankan tugas dan wewenangnya dibantu oleh organ pelaksana pengawas.

Keenam, KPK berwenang menghentikan penyidikan dan penuntutan terhadap perkara tindak pidana korupsi yang penyidikan dan penuntutannya tidak selesai dalam jangka waktu paling lama (satu) tahun. Penghentian penyidikan dan penuntutan tersebut harus dilaporkan kepada Dewan Pengawas dan diumumkan kepada publik. Penghentian penyidikan dan penuntutan dimaksud dapat dicabut apabila ditemukan bukti baru yang berdasarkan putusan praperadilan.

(wib)


Artikel yang berjudul “6 Poin Krusial Revisi UU KPK Diusulkan saat Era Pimpinan Plt…” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment

Pages