Breaking

Sunday, June 9, 2019

Ani Yudhoyono, Pecinta Sejarah dan Semangat Yang Tak Pernah…

loading…

Ani Yudhoyono selain dikenal dengan hobi fotografinya juga dikenal sebagai pecinta museum. Setiap kunjungan kerja Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ani Yudhoyono selalu menyiapkan waktu khusus untuk berkunjung ke museum. Menurut Ani, minat kunjungannya ke museum sederhana saja, yaitu bila ingin mengetahui tentang budaya suatu negara maka semua itu dapat dilihat dari museumnya.

Dari banyak kunjungan kenegaraan yang dilakukan Ani Yudhoyono, salah satu museum yang amat dikagumi adalah museum Nacionale de Antrpologia, Meksiko. Museum ini membuat Ani berdecak kagum dan memelajari banyak hal tentang lahirnya peradaban baru. Bahkan, Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng yang saat itu seharusnya mendampingi SBY dalam agenda pertemuan bilateral dengan Meksiko, justru memilih ikut berkunjung ke museum bersama Ani Yudhoyono.

“Jangan menyia-nyiakan kunjungan ke Meksiko yang penuh dengan lahirnya sejarah modern dunia. Saya sudah membaca sekilas tentang sejarah Meksiko dan beberapa negara Amerika Latin, dan sekarang saatnya saya melihat semua yang saya bayangkan seperti yang terdapat pada kisah-kisah di film Indiana Jones itu,” ungkap Ani sebelum berangkat menuju ke museum dari hotel tempat dia dan rombongan menginap.

Selain kerangka dinosaurus dan beberapa mummi yang ada di museum tersebut, Stone of the Sun, sebuah sistem kalender peninggalan bangsa Asteka di tahun 1425 Masehi, menjadi salah satu peninggalan sejarah yang membuat Ani Yudhoyono berdiri terpaku di hadapannya. Sistem penanggalan ini menurut penelitian merupakan sistem kalender yang paling tepat di dunia.

Menurut kalender bangsa Asteka, perputaran hari selama sebulan berjumlah 20 hari dan 18 bulan dalam setahun. Sepintas memang terdengar ganjil, karena bangsa modern di seluruh dunia saat ini menggunakan penghitungan 30-31 hari dalam sebulan dan 12 bulan dalam setahun. Namun, bila dijumlahkan, penanggalan bangsa Asteka memiliki jumlah hari yang sama dengan penanggalan kalender modern, yaitu 360 hari dalam setahun.

Direktur Promosi museum Antropologi Meksiko, Horge Bekaruga, dengan sangat detail memberikan penjelasan isi museum kepada Ani yang berdiri dihadapannya. Ani pun mendengarkan penjelasan profesor antropologi itu sambil menatap sebuah batu berukuran raksasa yang berdiri kokoh dihadapannya. Sesekali Ani Yudhoyono bertanya tentang tulisan yang tertera pada batu raksasa tersebut.

Banyaknya koleksi museum yang menyimpan sejarah nenek moyang bangsa Amerika Latin membuat waktu yang dijadwalkan untuk Ani tidak cukup untuk memenuhi semua keingintahuannya. Meski begitu, Ani tidak kehabisan ide untuk memelajari isi museum tersebut.

Seusai mendengarkan penjelasan direktur museum tentang bangsa Spanyol yang menggali emas di Meksiko untuk disetorkan ke bangsa Amerika sebagai bantuan modal perang, Ani langsung meminta sebuah buku yang berisi tentang benda-benda sejarah yang tersimpan di museum itu.

Tidak hanya di Meksiko, dalam kunjungan di Peru pun Ani menyempatkan waktu mengunjungi situs purbakala Pachacamac. Tempat yang dinamakan Temple of the Sun atau Kota Kuil Matahari ini merupakan peninggalan Suku Inka pada abad 15-16 atau tahun 1450-1532. “Ini spouse ladies program yang sangat menggairahkan. Saya bisa melihat tentang masa lalu bangsa ini bersama Ibu Negara lainnya,” tutur Ani.

Keingintahuan Ani tentang sejarah dan budaya tidak hanya dinikmatinya sendiri saja. Ani kerap menceritakan hasil kunjungan ke berbagai museum mancanegara tersebut kepada siapapun, termasuk kepada anak-anak yang mengunjungi Mobil Pintar.

Mobil pintar yang digagas Ani Yudhoyono berisi ratusan buku-buku yang menarik minat anak-anak membaca dan berfungsi sebagai perpustakaan keliling. Tak jarang saat melihat anak-anak mengunjungi Mobil Pintar, Ani ikut bergabung dan sesekali menceritakan kisahnya yang menarik saat berkunjung ke museum.

Selalu Semangat dan Pantang Menyerah

Selama tinggal di Puri Cikeas, Bogor, Ani Yudhoyono kerap berkeliling kompleks untuk menikmati keindahan lingkungan sekitar. Di suatu sore yang cerah, sekumpulan anak-anak yang sedang bermain sepak bola di depan rumah Ibu Habibah (ibunda SBY), secara mendadak dipanggil Ani.

Belasan anak-anak yang dipanggil melalui pengawal pribadi tersebut tampak was-was dan khawatir dimarahi karena bermain bola di jalanan dalam kompleks Puri Cikeas. Namun, wajah Ani yang ternyum lebar memudarkan kekhawatiran anak-anak tersebut.

“Kalian tahu, saya juga hobi main bola. Siapa yang paling jago di sini, ayo tangkap bola yang saya tendang,” ujar Ani kepada anak-anak. Dengan hanya didampingi dua pengawal pribadi, Ani asik bermain dengan anak-anak yang tinggal di perkampungan sebelah Puri Cikeas tersebut. Seusai bermain, Ani lalu meminta anak bercerita tentang cita-citanya. Dengan seksama Ani menyimak impian dan harapan anak-anak tersebut.

“Kalian semua punya cita-cita yang mulia, dan hampir semua ingin membahagiakan orangtua. Semua itu akan kalian raih dan dapat diwujudkan kalau kalian selalu semangat rajin belajar, disipilin, dan pantang menyerah. Banyaklah membaca buku karena buku adalah jendela dunia dan membantu kalian menggapai impian,” tutur Ani.

Semangat yang ditanamkan Ani Yudhoyono kepada setiap orang juga dia buktikan kepada dirinya sendiri. Selama mendapatkan perawatan intensif di National University Hospital (NUH) karena kanker darah yang dideritanya, Ani tak pernah putus asa dan siap melawan penyakitnya.

Saat KORAN SINDO membesuk Ani Yudhoyono di Singapura, SBY mengungkapkan kondisi Ani yang semakin membaik hari ke hari dan diharapkan siap untuk melakukan transpalasi tulang sumsum dari adiknya Pramono Edhie Wibowo.

“Kondisi Ibu Ani semakin hari semakin menunjukkan hal positif. Dokter mengatakan Ibu Ani sangat kuat dan tangguh. Setelah kondisinya benar-benar maksimal nanti, baru akan dilakukan transpalasi dari donor yang merupakan adik kandung Ibu Ani sendiri dan kriterianya memiliki kecocokan sepenuhnya,” tutur SBY.

Namun takdir berkata lain. Tak lama setelah Ani terlihat sangat sehat dan dapat menikmati udara di luar ruangan RS NUH, Ani Yudhoyono mengalami penurunan kesehatan yang sangat signifikan. Tepat di hari Sabtu, tanggal 1 Juni, Ani Yudhoyono mengembuskan napas terakhir pukul 11.50 waktu Singapura.

Almarhum dimakamkan pada hari Minggu (2/6) di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer. Selamat jalan Ani Yudhoyono, semua semangat yang pernah kau tebarkan akan selalu tertanam dan menjadi harapan dalam setiap langkah kehidupan.

(don)


Artikel yang berjudul “Ani Yudhoyono, Pecinta Sejarah dan Semangat Yang Tak Pernah…” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment

Pages