Breaking

Friday, May 24, 2019

Rajin Rawat Basis Massa Kunci Mantan Wartawan Ini Raih Suara…

loading…

JAKARTA – Suatu sore Wasekjen PPP Achmad Baidowi tengah memantau rekapitulasi internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di kantor LP2 DPP PPP, Jalan Diponegoro 60, Jakarta Pusat. Aktivitasnya sebagai koordinator saksi nasional PPP terlihat semakin padat sejak 17 April 2017.

Sehari setelah pencoblosan Pileg 2019, pria yang akrab disapa Awiek ini terus berkomunikasi dengan para caleg dan DPW. Tujuannya memastikan gambaran perolehan suara PPP bisa lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold/PT) 4%.

Data hitung cepat (quick count) dari sejumlah lembaga survei membuatnya bertambah semangat. Maklum inilah pertaruhan bagi PPP apakah masih ada di jagat politik Indonesia atau malah tenggelam. “Saya konsentrasi betul karena mayoritas kami kehilangan form C1 akibat kurangnya saksi di TPS,” kata Awiek memulai obrolan.

Pemilu serentak 2019 kali ini memang sangat berat karena energi publik tersedot ke Pilpres. Pileg cenderung sepi dari pemberitaan media. Ditambah ketentuan PT 4% dan metode penghitungan kursi menggunakan sainte lague yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia.

Wajahnya sumringah ketika menunjukkan tabulasi perolehan suara PPP di Dapil XI Jawa Timur. Pada Pemilu 2019 ini Awiek kembali dicalonkan dari Dapil Jatim XI nomor urut 1. Berdasarkan DD1 (hasil rekapitulasi KPU RI) jumlah suaranya mencapai 227.170 dari 265.174 total suara PPP di dapil yang meliputi Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Dengan perolehan tersebut, Awiek menempati rangking 1 di internal PPP dari 19 orang yang terpilih ke Senayan. “Alhamdulillah perolehan suara saya naik hampir tiga kali lipat dibanding 2014 yang saat itu hanya mendapatkan 82.052 suara,” ujarnya.

Perolehan suara mantan wartawan ini tergolong fantastis. Menempati urutan kedelapan teratas dari 575 anggota DPR terpilih dari 9 partai yang lolos ke Senayan. Padahal sebelumnya banyak yang meremehkan dirinya bahkan diprediksi tak bisa lanjut ke periode kedua.

Dari nama-nama caleg yang menempati rangking 10 besar, Awiek tergolong istimewa. Ia bersanding dengan sejumlah nama beken mulai dari menteri, mantan kepala daerah, adik kepala daerah hingga anak presiden.

“Saya hanya santri biasa. Bukan dari kalangan priayi, dapat suara segitu sungguh luar biasa,” tutur mantan wartawan KORAN SINDO ini.

Alumnus Ponpes Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan ini memang berasal dari keluarga biasa. Bapaknya Abd Rohim dan ibunya Ramna berprofesi sebagai petani. Sejak kecil ia diangkat anak oleh paman dan bibinya yang juga berprofesi sebagai petani. Bapak angkatnya, H Amirudin merupakan pengurus NU di tingkat ranting dan imam masjid di desanya.

Meskipun lahir di Banyuwangi, leluhurnya berasal dari Madura. Kakek dari ibunya berasal dari Dusun Be’ Betoh Barat, Kertagenah Tengah Kadur, Pamekasan yang merantau ke Pulau Jawa di era penjajahan Belanda. Sementara dari jalur bapaknya berasal dari Dusun Nong Pote, Kadur, Pamekasan. Sedangkan bapak angkatnya alias pamannya berasal dari Bekiong, Guluk-guluk, Sumenep.

Ia menikahi Uswatun Hasanah yang masih ada ikatan tali kekerabatan. Kerabatnya banyak tersebar di Pamekasan dan Sumenep. Kuatnya kekerabatan di Madura inilah yang kelak turut menjadi modal sosial ketika dirinya maju pileg.

Ditanya kiat-kiatnya bisa mendulang suara besar, pria yang pernah ikut kampanye PPP di era Orde Baru ini menuturkan, jaringan alumni Ponpes Darul Ulum Banyuanyar serta jaringan Korps Alumni HMI (KAHMI) banyak membantu. Diketahui, pengasuh Ponpes Darul Ulum Banyuanyar KH Muhammad Syamsul Arifin saat ini tercatat sebagai Wakil Ketua Majelis Syariah DPP PPP yang hingga kini masih istiqomah berjuang di parpol berlambang Kakbah tersebut.

“Jaringan sosial yang kuat tersebut menjadi modal berharga sehingga bisa menekan biaya politik yang tinggi,” tukas alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini.

Rajin Rawat Basis Massa Kunci Mantan Wartawan Ini Raih Suara Terbanyak di PPPTrik lainnya adalah mempertahankan pemilih tradisional PPP, yang dalam hal ini jaringan Ponpes Banyuanyar menjadi jangkarnya. Selain itu, Awiek juga berusaha mendekati pemilih baru yang belum pernah memilih PPP. “Saya kerap tampil di media rupanya menjadi magnet bagi mereka yang belum banyak tahu,” tutur peraih master Ilmu Politik Universitas Nasional ini.

Kandidat doktor Ilmu Pemerintahan IPDN ini menambahkan, untuk mendulang suara besar intinya tidak boleh lelah berkonsolidasi. Meskipun namanya banyak dikenal melalui media, pendekatan kepada masyarakat secara langsung juga sangat penting. “Istilah marketing-nya kita melakukan micro targeting dengan menyapa langsung masyarakat,” ujarnya.

Saat masa-masa kampanye, ia harus pandai membagi waktu. Suatu saat harus menjalankan tugas legislatif di Senayan, di waktu lainnya bertemu masyarakat. Maka pilihannya, akhir pekan dihabiskan di dapil.

Selama di dapil, dia menginap di rumah sendiri di Larangan Badung Palengaan atau di rumah mertua di Sumenep. Bahkan, kalau lagi di daerah utara seringkali menginap di salah satu rumah pendukungnya.

“Jika saya kampanye di daerah utara, menginapnya di rumah teman. Selain hemat waktu dan biaya, mereka sangat senang rumahnya pernah didatangi anggota DPR RI,” bebernya.

Cara ini tergolong efektif karena Awiek bisa menghemat waktu, tenaga dan biaya. Meski demikian, ia mengaku perolehan suaranya meleset dari target awal yakni 300.000 suara karena lemahnya saksi, khususnya di Bangkalan dan Sampang.

Mengenai proyeksi ke depan, ia siap ditugaskan PPP di posisi manapun untuk memperjuangkan amanah dari masyarakat di daerah pemilihannya. Dalam menjalankan tugasnya, ia selalu ingat tiga pesan kyainya yakni jangan menyalahi aturan agama, jangan menyalahi aturan negara dan harus bermanfaat.

(poe)


Artikel yang berjudul “Rajin Rawat Basis Massa Kunci Mantan Wartawan Ini Raih Suara…” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment

Pages