Breaking

Thursday, April 18, 2019

Bukan Kelompok Milenial, Ini Tiga Lumbung Suara Jokowi-Ma’ruf…

loading…

JAKARTA – Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 telah dilaksanakan di seluruh Indonesia. Secara umum, warga negara Indonesia yang telah memiliki hak pilih memilih dengan semangat tinggi untuk berpartisipasi datang ke tempat pemungutan suara.

Antusiasme publik terlihat dari membludaknya para pemilih yang datang ke TPS yang tersebar di seluruh Indonesia. Beberapa hasil hitung cepat (quick count) dari berbagai lembaga survei menunjukkan keunggulan pasangan nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma’ruf Amin atas pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Rata-rata hasil quick count dari tujuh lembaga survei yang kredibel (Litbang Kompas, Indobarometer, Charta Politika, Indikator, LSI Denny JA, SMRC, dan CSIS) menunjukkan keunggulan Jokowi-Kiai Ma’ruf sebesar 54,58% dan Prabowo Subianto-Sandi sebesar 45,42%.

Keunggulan Jokowi-Kiai Ma’ruf tersebut tidak berbeda jauh dari prediksi tiga skenario prediksi hasil Pilpres yang disampaikan Alvara Research Center dua hari sebelum hari tenang, 12 April 2019. Ketiga skenario tersebut menunjukkan peluang besar Jokowi–KH Ma’ruf Amin memenangkan Pilpres 2019.

“Prediksi elektabilitas hasil akhir yang mendekati hasil quick count adalah 55,9% untuk Joko Widodo–KH Ma’ruf Amin dan 44,1% untuk Prabowo Subianto–Sandiaga Uno,” ujar CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali, Kamis (18/4/2019).

Menurut Hasan, terdapat tiga faktor kunci yang menjadi keunggulan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin, yaitu, basis pemilih Jawa, NU, dan pemilih minoritas. Berbeda dengan hasil Pilpres 2014 yang menunjukkan Joko Widodo hanya unggul tipis di Pulau Jawa.

Pada Pilpres 2019 kali ini, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin unggul banyak di Jawa, meskipun untuk Jawa Barat, Prabowo-Sandi tetap unggul. Tetapi Jateng dan Jatim berhasil didominasi pasangan Jokowi-Ma’ruf.

“Data survei Alvara Research Center bulan Oktober-April 2019 juga menunjukkan elektabilitas Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin selalu di atas 58%, bahkan mendekati 60%. Jawa benar-benar menjadi lumbung suara bagi pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin,” sebut Hasanuddin Ali.

Keunggulan di Jawa menjadi sangat penting karena pemilih di Jawa menyumbang 57,84% dari total pemilih nasional. “Selain itu keunggulan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin di Jawa menjadi kompensasi atas kekalahan di Sumatera yang semakin telak, dan di Sulawesi yang persaingannya semakin ketat antarkedua kandidat,” ujar Hasanuddin.

Selain itu, mayoritas pemilih Indonesia yang merupakan muslim membuat populisme agama dengan politik identitas pada Pilgub DKI Jakarta seakan terulang kembali pada Pilpres 2019 ini. Namun besarnya dukungan Nahdliyin kepada Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin menjadi faktor kunci lain dalam Pilpres 2019 ini.

“Di saat pemilih Muhammadiyah memberikan dukungan yang besar kepada pasangan Prabowo-Sandi dan ketatnya elektabilitas pada pemilih yang bukan anggota ormas, pemilih dari Nahdlatul Ulama menunjukkan soliditasnya hingga detik terakhir dalam mempertahankan keunggulan Jokowi-Ma’ruf,” papar Hasanuddin.

Menurut dia, hasil pilpres ini menunjukkan bahwa pemilihan KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres mendampingi Joko Widodo adalah strategi yang tepat dalam memenangkan pertarungan.

Sumbangan suara Nahdiliyin bagi Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin bisa terlihat dari besarnya elektabilitas pasangan ini di Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Pemilih Nahdliyin mayoritas berasal dari dua provinsi ini,” kata Hasanuddin.

Basis pemilih ketiga adalah kelompok pemilih minoritas yang solid. Hasanuddin mengatakan, hasil quick count di provinsi-provinsi di Indonesia Timur seperti Bali, NTT, Sulut, dan Papua, menunjukkan margin keunggulan yang sangat tebal bagi Joko Widodo–KH Ma’ruf Amin.

Lantas, kemanakah suara kelompok milenial berlabuh? Hasan mengatakan bahwa pemilih muda merupakan komposisi pemilih terbesar di Indonesia pada Pilpres 2019. Sebanyak 44,48% pemilih berusia 17-36 tahun.

Dari berbagai survei yang dilakukan Alvara Research menunjukkan persaingan kedua kandidat pada pemilh muda, yaitu GEN Z dan Milenial terjadi sangat ketat. Pada pemilih muda margin keunggulan Joko Widodo–KH Ma’ruf Amin selalu single digit.

Namun berbeda dengan pemilih dewasa, yaitu GEN X dan Baby Boomers dimana Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin mendapatkan keunggulan tebal. “Pemilih muda, GEN Z dan milenial terbagi rata ke kedua kandidat,“ pungkasnya.

(wib)


Artikel yang berjudul “Bukan Kelompok Milenial, Ini Tiga Lumbung Suara Jokowi-Ma’ruf…” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment

Pages